Transformasi UMKM Berbasis Digital Makin Nyata: Kisah Siti dan Laily Jadi Gambaran Arah Baru

Pola pelatihan UMKM kini bergerak ke arah yang lebih progresif. Tak hanya mengasah keterampilan produksi, tetapi juga mendorong pelaku usaha untuk cepat beradaptasi dengan teknologi digital. Dampaknya mulai terasa, bahkan hanya dalam hitungan menit setelah pelatihan selesai.

Hal ini tergambar dari pengalaman Siti Rahmadani. Usai mengikuti pelatihan kewirausahaan yang digelar Yayasan Indonesia Setara di Tamini Square, Pinang Ranti, Jakarta Timur pada 31 Maret 2026, ia langsung mencoba strategi baru.

Baru membuka pre-order menu hasil pelatihan, ponselnya langsung dibanjiri pesanan.

“Pelatihannya seru banget. Sebelumnya saya sudah berjualan, tapi ini menu baru. Masyaallah, baru beberapa menit open PO sudah ada yang pesan 700 pieces,” ujar Siti.

Ke depan, model pelatihan seperti ini diperkirakan akan menjadi standar baru bagi pelaku UMKM, menggabungkan kreativitas produk dengan kecepatan pemasaran digital.

Bagi Siti, perubahan terbesar bukan hanya pada menu, tetapi juga cara berjualan. Ia mulai memanfaatkan teknologi berbasis AI untuk kebutuhan promosi.

“Saya juga belajar bikin poster lewat ChatGPT. Ternyata cepat dan mudah, hasilnya malah lebih bagus,” katanya.

Cerita serupa datang dari Laily, peserta pelatihan di Karawang pada 8 April 2026. Setelah mengikuti pelatihan bolu ketan hitam, ia langsung berani memulai usaha dari rumah.

“Hari ini jadi tahu cara buatnya. Bahkan diajarkan juga pakai AI untuk pemasaran. Setelah pelatihan, saya kirim ke grup WhatsApp, langsung ada yang pesan,” ujar Laily.

Ke depan, integrasi AI dan platform digital dalam pelatihan diproyeksikan akan semakin mempercepat lahirnya wirausahawan baru, khususnya dari kalangan ibu rumah tangga.

Founder YIS, Sandiaga Salahuddin Uno, menilai perubahan ini sebagai evolusi penting dalam pengembangan UMKM di Indonesia.

“Yang kita kejar adalah dampak sosial dan pertumbuhan bersama. Dari usaha kecil yang naik kelas, akan lahir peluang kerja baru,” ujar Sandiaga dalam keterangan tertulis pada Jumat (1/5).

Menurutnya, pendekatan pelatihan saat ini sudah dirancang lebih komprehensif. Tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga mencakup manajemen usaha, pengemasan, hingga strategi pemasaran digital yang relevan dengan tren pasar.

Selain itu, pelaku UMKM juga didorong untuk mengurus aspek legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal—dua hal yang diprediksi akan menjadi syarat utama untuk memperluas pasar di masa depan.

“Dengan strategi diversifikasi produk dan penguasaan marketplace, UMKM diharapkan mandiri, tetapi juga tumbuh dan berdampak bagi masyarakat,” katanya.

Dengan model pelatihan yang semakin adaptif ini, UMKM Indonesia diproyeksikan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bersaing dan berkembang di tengah ekonomi digital yang terus bergerak cepat.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tunaikan Zakat

Zakat yang Anda tunaikan, kebahagiaan yang mereka rasakan. Jangan biarkan hak mereka tertunda. Setiap rupiah yang anda sisihkan adalah senyum dan doa bagi mereka yang membutuhkan.

Tunaikan zakat anda dengan mudah dan aman :

BSI – 9600006007
An. Yayasan Indonesia Setara Center

Rekening Berhasil Di Salin